Jagalah Dirimu “Wahai Akhwat” Calon Penghuni Surga
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh teman-teman semuanya, terutama buat yang akhwatnya
nih. Pada pembahasan kali ini, ana akan membagikan sedikit ilmu ana kepada
teman-teman semuanya, terutama bagi yang akhwat nih. Hmm.. Di zaman
sekarang ini,sebagian akhwat lagi pada ikut-ikutan tren zaman now,gitu kan. Apa apa pasti
deh tu, pada bahas zaman now.
Dari mengubah cara berpakaian,penampilan,dan bahkan dari segi pergaulan pula.
Hmm... Sebenarnya kita boleh boleh saja
mengikuti tren, seiring berkembangnya zaman pastinya, kita ingin terlihat modis
dong,ingin terlihat gak jadul atau semacam nyalah. Tapi kita harus berpandai-pandai
dalam memilih apa yang pantas dan sesuai dengan syari'at. Jangan hanya
gara-gara ingin modis,kita menggunakan pakaian tetapi telanjang,contohnya
seperti memakai pakaian ketat,ataupun memakai jilbab yang tidak menutupi dada. Karena
Allah ta'ala berfirman :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ
أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ
بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ
غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا
عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ
مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman,
agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka,
atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam)
mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua)
yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya
agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua
kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
(QS. An-Nur 24: 31)
A. Pada
pembahasan yang pertama ini, ana akan membahas bagaimana berpakaian
dalam syari'at islam :
1.
Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun Muslimah, sebagai bentuk
ungkapan ketaatan dan ke tundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi
seorang muslim memiliki nilai ibadah. Seorang muslim dalam berpakaian harus
mengikuti aturan yang ditetapkan Allah.
Karena
Allah telah menjelaskan pakaian terbaik adalah pakaian Taqwa,
sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf Ayat 26:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزلْنَا عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada
kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian takwa (libasut takwa) itulah yang paling baik. Yang demikian itu
adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat.
(QS.Al-A’araf:26)
Dijelaskan Oleh Imam Ibnu
katsir dalam Tafsirnya, bahwa Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan
bahwa libasut taqwa (pakaian takwa) ialah bertakwa kepada Allah; dengan
pakaiannya seseorang itu menutupi auratnya, demikianlah pengertian libasut
taqwa.
2.
Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya
(bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya
(dengan tolak ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan
hidup dan melampiaskan nalurinya).
3.
Setiap manusia memiliki kedudukan
yang sama, yang membedakan adalah takwanya, karena Allah berfirman dalam surat Al-Hujarat
tentang orang yang paling mulia di sisi penciptanya, ialah orang-orang yang
bertakwa.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)
Hal ini sejalan dengan sabda
Rasulullah Shallahu’alaihi wassalam, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Ibnu Majah dalam Sunannya, bahwa manusia ini memiliki kedudukan yang sama,
hanya ketakwaan dan amal salehlah yang membedakan.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا
يَنْظُرُ إِلَى أَعْمَالِكُمْ وَقُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk-bentuk rupa
kalian dan harta-harta kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal perbuatan
dan hati kalian."
(HR.Ibnu Majah:4218, di Shahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu
Majah No.3359)
Salah satu bentuk ketakwaan melalui
cara berpakaian yang Islami dan itulah salah satu cerminan dari pribadi orang
yang bertakwa dan hati yang baik, sesungguhnya Allah juga berkehendak
memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai
makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai
yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh. Dan hasilnya
seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam
berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan
sebaliknya mendapatkan murka Allah.
Nah dengan kita berpakaian yang sopan dan
sesuai syari'at ,maka kita telah menjaga harga diri dan martabat kita di
hadapan orang banyak. Sekaligus kita membantu para ikhwan untuk menjaga
pandangan dari hal-hal yang dapat memancing nafsu dan hal ditakutkan yang akan berujung
pada perzinaan.
B. Pada bahasan kedua
ini, kita akan membahas tentang pergaulan dengan lawan jenis.
Di zaman sekarang , pergaulan antara ikhwan
dan akhwat sudah tidak ada lagi batasannya. Bahkan sudah melampaui batas
kewajaran,seperti saling bersentuhan dengan lawan jenis,saling bertatapan mata
ataupun wajah, padahal itu juga merupakan perzinaan.
Beberapa ayat dan hadits
yang menjelaskan tentang larangan-larangan dengan lawan jenis :
1.
Larangan bersentuhan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ
بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh
lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”
(HR ath-Thabarani
dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 486 dan 487) dan ar-Ruyani dalam “al-Musnad”
(2/227), dinyatakan Shahih oleh Imam al-Mundziri dan al-Munawi (lihat kitab “Faidhul
Qadiir” 5/258), dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul
ahaadiitsish shahiihah” (no. 226))
2.
Larangan berkhalwat (berdua-duaan) dengan
seorang wanita,melainkan bersama mahramnya.
أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ
إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
...Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang
wanita(bukan mahramnya), melainkan yang ketiga dari mereka adalah setan…”
(HR at-Tirmidzi (no. 2165) dan Ahmad (1/26), dinyatakan Shahih oleh imam at-Tirmidzi
dan Syaikh al-Albani)
Hadits di atas menjelaskan larangan berkhalwat(berdua-duaan) antara
lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan sejalan dengan hadits nabi
yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahihnya :
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ
ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki (berduaan) dengan perempuan
kecuali dengan ditemani mahromnya.”
(HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)
3.
Larangan Allah untuk mendekati zina, karena
zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.
وَلا تَقْرَبُوا
الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
“Dan janganlah kalian mendekati zina: sesungguhnya zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”(QS.Al-Isra’:32)
4.
Zina menurunkan kadar keimanan seorang muslim, hingga seperti akan keluar
dari hatinya.
لَا يَـزْنِـيْ الزَّانِـيْ حِيْـنَ يَـزْنِـيْ
وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Tidaklah berzina seorang pezina,ketika berzina ia dalam keadaan beriman (Pezina tidak dikatakan mu’min ketika ia berzina) (HR.
al-Bukhâri, no. 2475, 5578, 6772; Muslim, no. 57; Abu Dawud, no. 4689;
at-Tirmidzi, no. 2625)
5.
Ancaman Allah kepada pelaku zina, akan adzab di hari kiamat.
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا
آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا
يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ
وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain
beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang
melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal
dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat,
beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah
dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Furqaan:
68-70).
Hmm... mungkin sampai di sini dulu ilmu yang
dapat ana sampaikan, semoga bisa siamalkan Yaa.. dan kita berharap Allah
senantiasa memberkahi ilmu kita semuanya.. oh ya, jangan lupa do’akan ana untuk selalu
berjuang menegakkan Agama Allah ini,Syukron. Wallahu a'lam
Kawaiii,13 Jumadil Awal, 1439 H (30/1/2018)
Dikoreksi Ulang, admin
Berusaha Berbuat Baik.
Padang,
15 Jumadil Awal, 1439 H (1/2/2018)
Rujukan :
1.
Kitab Al-Kaba’ir, Al-Imam al-Hafidz adz-Dzahabi
2.
Mukhtasar Shahih Muslim, Imam Al-Mundziri
3.
Shahih al-Bukhari
4.
Shahih Sunan Abu Dawud, Muhammad Nashiruddin Al-Albani
5.
Shahih Sunan Ibnu Majah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani
6.
Shahih Sunan at-Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin Al-Albani
7.
Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani
8.
Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir
“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka
ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barang
siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang
diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
(HR.Muslim)
Bagi Ikhwan dan Akhwat yang ingin berdakwah dengan tulisannya, silakan
kirim ke email kami berusahaberbuatbaik@gmail.com
, jangan ragu-ragu, jika ada yang kurang cocok isinya, Insyaa Allah kami akan
membantu memperbaiki, tanpa mengubah kerangka asli yang akan di sampaikan.
Dukung kami di :
Instagram : berusahaberbuatbaik
Facebook : Dakwah Generasi Muda
Halaman Fb : berusahaberbuatbaik
Website : berusahaberbuatbaik.blogspot.com
0 komentar